Kearifan lokal dalam Pukat Pantai Pangandaran

 


     Pangandaran sebagai ikon wisata Jawa Barat merupakan fakta yang tidak terbantahkan,kelengkapan fasilitas wisata serta potensi wisata yang cukup banyak merupakan aset yang tidak ternilai.Namun dibalik semua itu Pangandaran memiliki sumber daya alam lainnya yang cukup memberikan manfaat bagi masyarakat terutama para nelayan.Sebagai bagian dari kawasan pantai selatan Jawa,Pangandaran memiliki kekayaan laut melimpah,bahkan hasil laut tangkapan para nelayan Pangandaran didistribusikan ke berbagai daerah di Indonesia dan ada juga yang diekspor ke mancanegara.

            Ketika berkunjung ke Pangandaran terutama kawasan pantai timur,ada sesuatu yang menarik perhatian.Beberapa orang terlihat memegang tali sambil menghadap kelaut lepas dengan gerak seirama menarik tali tersebut.Penasaran dengan aktivitas mereka banyak sekali pelancong yang menonton apa yang mereka lakukan.Ternyata mereka sedang menangkap ikan dengan teknik pukat pantai.Secara sederhana teknik ini dimulai dari penyebaran jaring pukat yang dibawa oleh perahu sejauh 300 meter dari bibir pantai.Jaring ini bisa berdiameter lebih dari seratus meter,setelah itu tali jaring dibawa kembali kepantai oleh perahu tersebut.

        


Sedikit Informasi tentang Pukat pantai atau beach seine adalah salah satu jenis alat tangkap yang masih tergolong kedalam jenis alat tangkap pukat tepi. Dalam arti sempit pukat pantai yang dimaksudkan tidak lain adalah suatu alat tangkap yang bentuknya seperti payang, yaitu berkantong dan bersayap atau kaki yang dalam operasi penangkapanya yaitu setelah jaring dilingkarkan pada sasaran kemudian dengan tali panjang (tali hela) ditarik menelusuri dasar perairan dan pada akhir penangkapan hasilnya didaratkan ke pantai.

            Hasil tangkapan yang diperoleh dengan alat tangkap pukat pantai terutama jenis-jenis ikan dasar atau jenis ikan demersal dan udang antara lain yaitu; pari (rays), cucut (shark),teri (stolepharus spp), bulu ayam (setipinna spp), beloso (saurida spp), manyung (arius spp), sembilang (plotosus spp), krepa (epinephelus spp), kerong-kerong (therapon spp), gerot-gerot (pristipoma spp), biji nangka (parupeneus spp), kapas-kapas (gerres spp), petek (leiognathus spp), ikan lidah dan sebelah (psettodidae), dan jenis jenis udang (shrimp).


Aktivitas satu kelompok nelayan menangkap ikan dengan teknik ini bisa berjumlah 30 orang,hal ini dikarenakan untuk menarik jaring pukat diperlukan tenaga besar.Ketika para nelayan tersebut menarik tali jaring,gerakannya sangat kompak dan seirama.Dalam satu kali penangkapan ikan membutuhkan waktu hingga dua jam dari mulai jaring disebar hingga mendaratkan ikan di tepi pantai. Kearifan lokal sangat jelas tergambar dalam kegiatan menangkap ikan dengan metode ini,gotong royong sebagai ciri khas bangsa kita dipraktekan langsung oleh nelayan.Meraka bahu membahu menarik tali jaring,adakalanya bukan hanya nelayan dewasa yang terlibat,namun banyak diantaranya anak anak pun ikut serta.

Post a Comment

0 Comments